Perkuliahan Manajemen Pemasaran – Strategic Planning

Mata kuliah Manajemen Pemasaran oleh Prof. Dr. Ir. H Ujang Sumarwan, MSc. ini banyak hal yang saya dapatkan yaitu bukan hanya sekedar menjual dan memasarkan barang atau jasa saja tetapi kita harus me-maintain konsumen kita. Salah satunya yaitu melakukan perencanaan strategis (stategic planning). Pada prinsipnya, perencanaan adalah cara sistematis yang dilakukan organisasi dalam rangka mengendalikan masa depannya. Rencana adalah pernyataan mengenai apa yang ingin dicapai organisasi (tujuan), bagaimana mencapainya (strategi dan program), dan kapan mewujudkannya.

Salah satu kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh semua perusahaan adalah merumuskan perencanaan strategis (strategic planning), yang meliputi : penyusunan Strategic planning oleh Top management, penyusunan Tactical planning oleh Middle management dan penyusunan Operational planning oleh Supervisory management. Strategic Planning dirumuskan oleh Top Management dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki dan kapasitas untuk memenuhi peluang bagi pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Kegiatannya meliputi:
1. Mendefinisikan misi perusahaan
2. Melakukan evaluasi terhadap lingkungan di dalam maupun diluar perusahaan (SWOT Analysis)
3. Menetapkan tujuan dan sasaran organisasi
4. Membangun portofolio bisnis
5. Menyusun strategi pertumbuhan

Rencana strategi pasar adalah suatu proses. Tujuan rencana strategi pada intinya adalah untuk mengantarkan kinerja di atas rata-rata ke dalam area pertumbuhan penjualan, untuk memperbaiki posisi saham dan untuk kinerja keuntungan jangka panjang. Adapun rencana strategi pasar defensive untuk menghasilkan kinerja keuntungan jangka pendek, melindungi posisi saham penting dan mengkontribusikan kinerja keuntungan jangka panjang dan posisi strategis. Sedangkan rencana strategi pasar ofensif membutuhkan investasi untuk berkembang, membatasi kinerja keuntungan jangka pendek, membangun pendapatan penjualan dan memperbaiki posisi saham.

 


Kelas Manajemen Pemasaran Angkatan Eksekutif 47

Kelompok KOPI E47
Lidya Susanti, Maya Wulan Arini, Aliyatur Ropiah, Riananda Aminanto Hutomo, Ahmad Arief Wicaksono

Marketing Class of E47 2013 Graduate Student of Master Program in Management
Graduate Program of Management and Business
Bogor Agricultural University

Marketing Management Class PMB 541
Lecturer
Prof Dr. Ir. UjangSumarwan, MSc
Dr. Mukhamad Najib, MM
Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM
www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id
sumarwan@mb.ipb.ac.id

Lecture Notes based on book by UjangSumarwan, Agus Djunaidi, Aviliani, H.C Royke Singgih, Jusup Agus Sayino, Rico R. Budidarmo, Sofyan Rambe. 2009. Pemasaran Strategik : Strategis untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham(Strategic Marketing : Strategy for Corporate Growth in Creating Share Holder Value). Jakarta. Inti Prima.

www.ujangsumarwan:blog.mb.ipb.ac.id

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. Cetakan ke 2.2011. Pemasaran Strategik : Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja Strategic Marketing : Value Based and Performance Measurement Perspectives). Bogor, IPB Press.


Chocolate War

Pada mata kuliah Manajemen Pemasaran menampilkan video “Chocolate War”. Video ini menceritakan dua perusahaan coklat ternama di Amerika Serikat yaitu Hershey dan Mars. Video ini memberikan banyak inspirasi yaitu bagaimana perusahaan ini membangun usahanya dari awal secara tekun, pantang menyerah dan penuh inovasi.

Kalimat yang paling inspiratif dalam video “Chocolate War”

“Untuk menguasai pangsa pasar, produksi harus maksimal yang menjamin kualitas”

Kedua perusahaan ini yaitu Hershey dan Mars melakukan berbagai cara untuk memperebutkan pangsa pasar dan minat konsumennya.

Marketing Concept Chocolate War

1. Segmentasi pasar dan target pasar

Segmentasi pasar dan Target pasar –> Hershey melakukan riset  dengan melihat segmen apa yang dituju. Misal saat ada perang, dia membuat coklat yang tidak meleleh pada suhu panas dan baru akan meleleh saat berada di mulut. Pada saat perang, militer merupakan target pasar industri coklat. Namun saat perang berakhir, target konsumennya mengarah kepada anak-anak.

2. Price

Penetapan harga yang murah Hershey dapat menjangkau konsumen sehingga mendongkrak penjualan hal ini dikarenakan kapasitas pabrik yang besar sehingga harga produksi menjadi rendah. Coklat Hershey lebih mengangkat jargon coklat asli Amerika. Sedangkan Coklat M&M kompetitornya menetapkan harga yang bersaing murahnya dengan Hershey untuk mencapai pangsa pasar yang dapat dinikmati oleh semua kalangan dengan harga yang terjangkau.

3.Distribusi

Hershey’s merupakan coklat favorit militer sejak Perang Dunia I dan menjadi supplier coklat pihak militer dengan me-launching produk “DESERT BAR” yang tidak meleleh pada suhu hingga 120-140oFahrenheit (umumnya coklat meleleh pada suhu 85-88oFahrenheit), serta men-supply coklat kepada pihak militer tanpa dikenakan biaya distribusi, sehingga saat itu pihak militer menjadi konsumen terbesar Hershey’s. Mars juga berusaha memperkenalkan M&M’s kepada pihak militer. Namun sadar akan persaingan yang ketat, M&M’s berubah haluan pasar dan memperkenalkan permen coklat tersebut kepada anak-anak. Tak lama produk Mars akhirnya dapat merebut hati para militer Amerika, mengalahkan produk Hershey’s dan menjadi produk favorit para anggota militer, dengan produk M&M’s yang berwarna-warni, tidak cepat meleleh pada suhu panas, lebih praktis dan mudah didapatkan karena jaringan distribusi globalnya.

4. Promotion

Dalam segi promosi, M&M lebih gencar daripada Hershey. M&M lah yang pertama kali meluncurkan iklan melalui televisi yang membuat produknya dikenal orang di seluruh dunia. Dia menggunakan tokoh kartun M&M yang sangat lucu dan menarik. sehingga dapat menjadi market leader.Tetapi Hershey tidak tinggal diam, dia ingin merebut kembali sebagai market leader coklat. Mereka mencoba menjual produk baru; Reese’s Pieces, yang sangat mirip dengan M&M. Mereka bekerjasama dengan Universal Studios membuat film E.T tentang mahluk angkasa yang berteman dengan anak laki-laki. Ada sebuah adegan yang membutuhkan kehadiran coklat warna-warni Reese’s Pieces. Masing-masing saling bersaing untuk merebut pangsa pasar dan menjadi market leader, dengan mengarahkan semua teknologi dan sumberdaya yang dimiliki masing-masing perusahaan. Sampai sekarang Mars dan Hershey masih bersaing kuat.

5. Inovasi produk

Hershey dan Mars menciptakan inovasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan segmen pasar yang akan dituju. Produk Hershey’s antara lain Milk Chocolate Bar, Hershey’s Kiss, Hershey’s Miniature, Hershey’s Drop, serta Hershey’s Nuggets. Produk yang diluncurkan Mars adalah MILKY WAY, berupa nugget (coklat susu dengan karamel yang kenyal di dalamnya). Produk lainnya adalah SNICKERS dan 3 MUSKETEERS. Inovasi lain yang dilakukan adalah diluncurkannya produk M&M’s berupa coklat yang dilapisi permen berbagai warna yang tidak cepat meleleh. GODIVA Chocolatier, perusahaan coklat asal Eropa yang melakukan terobosan unik yang dapat meningkatkan kembali prestige coklat itu sendiri.


PERBANDINGAN IMPLEMENTASI OUTSOURCING DAN INSOURCING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Persaingan dalam dunia bisnis saat ini membuat setiap perusahaan harus mengupayakan untuk melakukan efisiensi biaya produksi (cost of production) dan meningkatkan produktivitas produk dan jasa untuk memiliki kualitas dan daya saing di pasaran. Salah satu cara yang dilakukan perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya dengan mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin agar dapat memberikan hasil maksimal sesuai sasaran perusahaan dan dengan mengembangkan sistem informasi (hardware, software, network, data, produk informasi). Maka, fokus perusahaan dalam menangani pekerjaan menjadi bisnis inti (core business).

Penerapan sistem informasi di dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan, khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen. Pengembangan dan penerapan sistem informasi perusahaan pada awalnya hanya sekedar untuk menunjang  aktivitas bisnis harian. Namun seiring dengan peningkatan skala bisnis, kebutuhan akan sistem informasi yang terpadu dan terintegrasi adakalanya tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan tersebut. Meskipun demikian, keberadaan sistem informasi mutlak diperlukan oleh setiap perusahaan yang ingin bersaing di era kompetisi global seperti saat ini. Sistem informasi yang dibangun harus memenuhi kebutuhan perusahaan untuk dapat menganalisis masalah dengan tepat sehingga menghasilkan pengambilan keputusan yang tepat. Selian itu, sistem informasi harus mampu mendukung kegiatan operasional perusahaan dengan efisien dan efektif.

Permasalahan dan tantangan yang akan selalu dihadapi oleh perusahaan dalam pengembangan sebuah sistem informasi terletak pada siapa atau pihak mana yang akan melaksanakan proses pengembangan tersebut. Keputusan untuk meyerahkan pengembangan sistem informasi harus didasarkan pada sumberdaya modal perusahaan, kemampuan sumberdaya manusia perusahan, teknologi perusahaan yang memadai dan kebutuhan operasional perusahaan.

Pemilihan pelaku yang dapat menangani pengembangan sistem informasi perusahaan adalah pihak outsourcing dan insourcing. Perusahan dapat menyerahkan pengembangan sistem informasinya pada pihak internal atau insourcing, dimana perusahaan merancang atau membuat sendiri sistem informasi yang dibutuhkan dan menentukan pelaksana sistem informasi menjadi alternatif selanjutnya.

 

full pdf : SIM Individu Lidya Susanti (E47) 2014


Implementasi Sistem Informasi Manajemen pada Perusahaan Shuttle Express

Saat ini baik di lingkungan organisasi kecil maupun besar mengalami perkembangn yang pesat dan perubahan yang luar biasa. Mereka mempunyai keinginan untuk dapat bersaing baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (competitive advantage). Dalam mencapai hal tersebut maka organisasi harus mampu melakukan semua kegiatannya dengan efektif dan efisien.

Perubahan lingkungan bisnis memerlukan sistem informasi yang sesuai dengan perkembangan dunia bisnis. Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat, dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Informasi sendiri mengandung suatu arti yaitu data yang telah diolah ke dalam suatu bentuk yang lebih memiliki arti dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Sistem informasi manajemen (SIM) adalah sistem perencanaan bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis. Teknologi informasi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat yang diikuti dengan kemajuan dibidang tersebut. Dengan berkembangnya dan majunya teknologi informasi memacu perusahaan untuk menggunakan teknologi tersebut sebagai pengolah dan penyedia informasi. Selain itu, perkembangan sistem informasi manajemen pun menyebabkan terjadinya perubahaan dalam pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

Shuttle Express merupakan suatu perusahaan di bidang transportasi dan dalam kegiatan operasionalnya Shuttle Express mengubah sistemnya dari yang sebelumnya penggunaan sistem informasi hanya untuk internal kantor saja menjadi penggunaan untuk semua kegiatan bisnisnya termasuk kegiatan pemesanan. Shuttle Express sebelum adanya sistem informasi, pencatatan pemesanan dari konsumen menggunakan media papan tulis biasa, namun dengan adanya sistem informasi proses pemesanan dapat dilakukan secara terintegrasi dari konsumen ke perusahaan secara online sehingga kegiatan operasional perusahaan Shuttle Express menjadi lebih efisien akibat dari penggunaan sistem informasi tersebut.

 

APLIKASI DAN IMPLIKASI SIM PADA SUTTLE EXPRESS


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1.       Latar Belakang

Dengan semakin berkembangnya dunia bisnis saat ini maka menuntut para pelaku usaha untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam melakukan usahanya. Para pelaku bisnis dalam hal ini manajemen di dalam suatu perusahaan untuk dapat lebih mengembangkan fungsi – fungsi dalam perusahaan tersebut yang dapat mendukung perusahaan agar mampu memenangkan persaingan bisnis.

Hal ini sangat penting agar bisnis yang dijalankannya dapat terus bersaing atau bahkan menjadi market leader. Untuk itu, perusahaan harus mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang terus menerus dalam segala hal seperti pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan bisnis dan lain sebagainya khususnya dalam pengembangan sistem informasi. Pengembangan Teknologi Informasi (TI) sendiri tidak dapat dilepaskan dari fungsi sistem informasi yang diinginkan oleh perusahaan. Bagaimanapun pengembangan sistem  informasi akan berdampak cukup luas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di dalam sebuah perusahaan, apapun jenis dan bentuknya, system informasi bahkan telah memainkan peran penting dalam mendukung kegiatan operasional. Mulai dari jajaran staff atau bahkan manajemen dengan level yang lebih tinggi.

Sistem informasi Manajemen (SIM) adalah serangkaian sub sistem informasi yang terintergrasi dan mampu mentransformasi data, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dari perusahaan. Saat ini hampir semua perusahaan melakukan investasi /implementasi Informasi Teknologi (IT), untuk menunjang bisnis mereka.

Sistem informasi tidak hanya memproses data menjadi informasi tetapi juga menyalurkan informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan.  Penggunaan ataupun implementasi sistem informasi ini bukanlah suatu investasi yang kecil, perlu benar-benar analisis yang tepat agar investasi yang sedemikian besarnya dapat menghasilkan suatu hal yang berguna dan sejalan dengan tujuan perusahaan. Selain besarnya investasi yang dibutuhkan dalam penerapan sistem informasi ini, tentunya kapabilitas dari sumberdaya manusia yang akan menggunakan sistem tersebut perlu benar-benar disesuaikan agar mampu memaksimalkan segala potensi manfaat dari penggunaan sistem tersebut.

Walaupun dalam menjalankan sebuah perusahaan tidak akan terlepas dari berbagai macam masalah dan kendala, termasuk diantaranya adalah perubahan cepat yang sering sekali timbul. Peran sistem informasi mendukung strategi bisnis perusahaan namun seringkali menjadi tidak optimal akibat tidak selarasnya strategi sistem informasi dengan strategi bisnis perusahaan.  Masalah ini pada akhirnya akan mengurangi kinerja perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, perusahaan perlu melaksanakan suatu perencanaan strategi sistem informasi.

Dengan demikian, paper ini akan mengulas faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan penerapan sistem informasi dalam suatu perusahaan.

 1.2.   Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan penerapan sistem informasi dalam suatu perusahaan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Sistem Informasi Manajemen

Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hal atau kegiatan atau elemen atau subsistem yang saling bekerjasama atau yang dihubungkan dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu fungsi guna dalam mencapai suatu tujuan.

Menurut O’Brien (2005), setiap sistem setidaknya terdiri dari tiga komponen atau fungsi dasar yang saling berinteraksi yaitu :

  1. Masukan (input) meliputi kegiatan penangkapan (capturing) dan pengumpulan(assembling) elemen yang akan dimasukkan ke dalam sistem untuk diproses. Masukan dapat dibedakan menjadi maintenance input yang memungkinkan sistem dapat beroperasi dan signal input yang nantinya akan diolah menjadi produk. Contohnya, bahan baku, data, dan energi.
  2. Pemrosesan (processing) meliputi proses pengubahan masukan menjadi keluaran. Contohnya, proses pembuatan mobil.
  3. Keluaran (output) meliputi proses pemindahan elemen yang telah melewati tahap pemrosesan ke tujuan akhir yang ditetapkan. Keluaran dari sebuah sistem selalu berupa keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.

Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”. SIM  menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan berita dan memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial organisasi dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem karena berita yang tersebar dalam pelbagai bentuknya dikumpulkan, disimpan serta diolah dan diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi suatu informasi.

Tujuan umum SIM :

  • Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk,dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Agar SIM dalam suatu organisasi dapat beroperasi secara lebih efektif, maka perlu diperhatikan tentang beberapa unsur penting berikut:

1)      Data yang dibutuhkan

2)      Kapan data dibutuhkan

3)      Siapa yang membutuhkan

4)      Dimana data dibutuhkan

5)      Dalam bentuk apa data dibutuhkan

6)      Prioritas yang diberikan dari bermacam data

7)      Prosedur/mekanisme yang digunakan untuk memproses data

8)      Bagaimana pengaturan umpan balik

9)      Mekanisme evaluasi yang digunakan.

SIM yang baik akan mampu menyediakan data dan kemampuan analisis perhitungan data-data. Dalam suatu organisasi, setiap tingkatan manajemen mempunyai kebutuhan-kebutuhan rencana sendiri yang berbeda. SIM yang dikembangkan harus mampu mendukung setiap kebutuhan tersebut. Aktivitas sistem informasi yang berupa input, proses, output penyimpanan dan pengendalian dipadukan dengan teknologi informasi agar saling mendukung, bermanfaat dan memberikan nilai tambah, yaitu hardware, infrastruktur (jaringan), software, brainware dan pengguna (user), sumber data serta produk informasi.

2.1.1.   Sistem Informasi

Peran dari Sistem Informasi (SI) sangat besar untuk memadukan semua unsur-unsur yang saling berhubungan sehingga sistem informasi tersebut harus dipandang sebagai suatu sistem tunggal, akan tetapi cukup kompleks sehingga perlu diuraikan menjadi subsistem-subsistem untuk perencanaan dan pengendalian pengembangannya serta untuk mengendalikan operasinya.

Sistem informasi dalam perspektifnya sebagai alat kontrol digunakan dalam proses monitoring, evaluasi, dan koreksi terhadap sistem agar senantiasa optimal, sedangkan dari fungsinya sistem informasi yang terpadu menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu orgaisasi (O’Brien, 2002).

McLeod (1996) mendefinisikan sistem informasi sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyajikan informasi sesuai dengan kebutuhan user. Dengan informasi tersebut, pengguna dapat mengetahui tentang apa yang telah terjadi di masa lalu, sekarang, dan dugaan kejadian di masa yang akan datang. Informasi dapat disajikan dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus atau simulasi matematik.

O’Brien (2000) menyatakan bahwa sistem informasi merupakan kombinasi teratur dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi. Orang bergantung pada sistem informasi untuk berkomunikasi antara satu sama lain dengan menggunakan berbagai jenis alat fisik (hardware), perintah dan prosedur pemrosesan informasi (software), saluran komunikasi (jaringan), dan data yang disimpan (sumber daya data) sejak permulaan peradaban.

Sistem Informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, komponen kontrol, dan komponen jaringan. Semua komponen tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.

1)      Komponen input

Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen dasar.

2)      Komponen model

Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.

3)      Komponen output

Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.

4)      Komponen teknologi

Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.

5)      Komponen hardware

Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi.Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.

6)      Komponen software

Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah, menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.

7)      Komponen basis data

Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di perangkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).

8)       Komponen kontrol

Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

9)       Komponen jaringan

Untuk menghubungkan komputer-komputer perangkat keras dalam sebuah kesatuan diperlukan media untuk menghubungi antara hardware dan software sistem informasi yang digunakan di suatu perusahaan. Komponen jaringan terdiri dari hardware dan software jaringan. Hardware komponen jaringan berupa kartu penghubung jaringan (Network Interface Card), media penghubung jaringan, HUB (konsentrator), repeater, bridge, dan router. Komponen software jaringan berupa sistem operasi jaringan, network adapter drive, dan protokol jaringan.

O’Brien (2005) menyebutkan bahwa sistem informasi memiliki tiga peranan penting untuk sebuah perusahaan :

  1. Untuk mendukung proses bisnis dan proses operasional.
  2. Untuk membantu para pegawai dan manager dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang akan dijalankan diperusahaan.
  3. Untuk menciptakan strategi sehingga dapat memiliki keunggulan kompetitif untuk bersaing menghadapi era globalisasi.

Sistem informasi menurut O’Brien (2005) juga memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut :

  1. Mendukung keberhasilan dalam area-area fungsional, seperti akuntansi, keuangan, manajemen operasional, pemasaran dan manajemen sumber daya manusia.
  2. Sistem informasi memiliki kontribusi yang sangat penting dalam peningkatan efisiensi operasional, produktivitas, kinerja karyawan, serta layanan dan kepuasan customer.
  3. Sistem informasi dapat menjadi modal yang sangat penting untuk pengembangan perusahaan mengingat kondisi pasar yang sangat kompetitif di era globalisasi ini.
  4. Sistem informasi dapat menjadi peluang karir yang dinamis karena perkembangannya yang terus meningkat seiring dengan kemajuan zaman.
  5. Sistem informasi merupakan komponen yang sangat penting untuk membentuk jaringan baik secara sumber daya dan infrastruktur.

Sistem informasi memiliki tujuan yaitu untuk menghasilkan informasi-informasi (information) dari data yang diolah menjadi bentuk yang berguna bagi para pemakainya. Sistem informasi dapat diterapkan secara internal dan eksternal perusahaan. Secara eksternal, sistem informasi yang ada ditarik keluar menjangkau ke pelanggan. Secara internal sistem informasi dapat diterapkan di dalam fungsi-fungsi organisasi atau di tingkatan-tingkatan organisasi.

Sistem informasi memiliki peranan yang sangat penting dalam bisnis. Teknologi informasi dapat membantu segala jenis bisnis meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses bisnis, pengambilan keputusan manajerial dan kerja sama kelompok kerja, hingga dapat memperkuat posisi kompetitif bisnis dalam pasar yang cepat sekali berubah. Hal ini berlaku ketika teknologi informasi digunakan untuk mendukung tim pengembangan produk, proses dukungan untuk pelanggan, transaksi e-commerce, atau dalam aktivitas bisnis lainnya. Teknologi dan sistem informasi berbasis internet dalam waktu singkat menjadi bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan bisnis di lingkungan global yang dinamis saat ini.

Sistem informasi dapat merupakan kombinasi teratur apapun dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi. Orang bergantung pada sistem informasi untuk berkomunikasi antara satu sama lain dengan menggunakan berbagai jenis alat fisik (hardware), perintah dan prosedur pemrosesan informasi (software), saluran komunikasi (jaringan), dan data yang disimpan (sumber daya data) sejak permulaan peradaban.

Peran utama aplikasi sistem informasi dalam bisnis adalah untuk memberikan dukungan yang efektif atas strategi perusahaan agar dapat memperoleh keunggulan kompetitif. Peran strategis sistem informasi ini melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk mengembangkan berbagai produk, layanan, dan kemampuan yang memberikan perusahaan keunggulan besar atas tekanan kompetitif dalam pasar global. Hal ini menciptakan sistem informasi strategis, sistem informasi yang mendukung atau membentuk posisi kompetitif dan strategi dari perusahaan bisnis

Dalam hal tersebut system informasi berperan sangat penting, Dilihat dari sisi perspektif managerial fungsi dari system informasi adalah :

  1. Minimize Risks, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor keuangan. Umumnya resiko berasal dari adanya ketidakpastian  dalam berbagai hal dan aspek-aspek eksternal lain yang berada di luar control perusahaan. Contohnya adalah kurs mata uang yang berfluktuasi, perilaku konsumen yang dinamis, jumlah permintaan produk yang tak menentu dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi informasi selain harus mampu membantu perusahaan untuk mengurangi resiko bisnis yang ada, perlu pula menjadi sarana untuk membantu manajemen dalam mengelola resiko (managing risk) yang dihadapi sehari hari.
  2. Reduce Cost , tawaran lain yang ditawarkan oleh teknologi informasi adalah perbaikan, efisiensi dan optimalisasi proses-proses bisnis di perusahaan. Peranan teknologi informasi sebagai katalisator dalam berbagai usaha mengurangi biaya-biaya operasional perusahaan pada akhirnya akan berpengaruh pada profitabilitas perusahaan. Ada empat cara  yang ditawarkan oleh teknologi informasi untuk mengurangi biaya-biaya yang kerap dikeluarkan untuk kegiatan operasional sehari-hari yaitu :

              a)      Eliminasi Proses

              b)      Simplifikasi Proses

              c)      Integrasi Proses

              d)     Otomatisasi Proses

  1. Add Value, tujuan akhir dari dari penciptaan value bukan sekedar untuk memuaskan pelanggan saja (customer satisfaction), tetapi lebih jauh untuk menciptakan loyalitas (customer loyalty) sehingga pelanggan tersebut bersedia untuk selalu menjadi konsumen perusahaan untuk jangka waktu yang panjang (customer bonding).
  2. Create New Realities , perkembangan teknologi informasi yang terakhir ditandai dengan pesatnya teknologi internet, telah mampu menciptakan suatu arena bersaing baru bagi perusahaan, yaitu di dunia maya. Berbagai konsep e-business semacam e-commerce, e-procurement, e-customers, e-loyalty, dan lain-lain pada dasarnya merupakan suatu cara memandang baru di dalam menanggapi mekanisme bisnis di era globalisasi informasi.

2.2.   Implementasi Sistem Informasi pada Perusahaan

Informasi sangat diperlukan oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan. Demikian pula sebaliknya, semua kegiatan menghasilkan informasi, baik yang berguna bagi perusahaan yang melaksanakan kegiatan tersebut maupun bagi perusahaan lain diluar perusahaan yang bersangkutan, oleh sebab informasi berguna untuk semua macam dan bentuk kegiatan dalam perusahaan. Apabila sistem informasi manajemen dirancang dan dilaksanakan dengan baik, maka akan banyak manfaat yang bisa diperoleh manajemen perusahaan, yaitu mempermudah manajemen dan membantu serta menunjang proses pengambilan keputusan manajemen. Karena sistem informasi manajemen menyediakan informasi bagai manajemen perusahaan dimana sistem informasi manajemen tersebut dilaksanakan. Sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan informasi memegang peranan penting.

Peranan informasi pun penting bagi pemimpin perusahaan dalam mengambil keputusan atau tindakan di masa mendatang. Suatu keputusan yang dihasilkan dengan tidak berdasarkan pada penggunaan informasi yang tepat akan berakibat pada pengambilan keputusan yang cukup fatal dan tidak dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan.

Murdick (1993) mengemukakan para manajer mengandalkan suatu sarana khusus, yaitu informasi. Para manajer harus mengajukan pertanyaan pada dirinya apakah informasi yang saya butuhkan di dalam menyelenggarakan tugas saya dan dimana informasi tersebut saya peroleh.

Perencanaan dan pengawasan merupakan tujuan dari penggunan informasi oleh manajemen. Tujuan yang ditentukan oleh proses perencanaan harus dicapai dengan aktivitas itu. Meskipun perencanaan meliputi semua tingkat organisasi, tetapi kebanyakan terjadi pada tingkat keputusan strategis dan taktis. Perencanaan banyak bergantung pada peramalan dan informasi dari luar. Pengendalian merupakan hal membandingkan hasil aktual dengan rencana yang ditentukan pada proses perencanaan. Demikian pentingnya peranan sistem informasi manajemen dalam usaha pencapaian tujuan, sehingga jelaslah bahwa penggunaan dari sistem informasi manajemennya harus dikaitkan dengan usaha-usaha modernisasi, sedang proses modernisasi hanya dapat terjadi bila ditarik manfaatnya dari kemajuan yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam manfaat dan peranan sistem informasi manajemen seorang pemimpin dapat mengikut sertakan orang lain dalam arti memikirkan masalah bersama-sama dan bersama pula bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan perusahaan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.   Peranan Sistem Informasi di Perusahaan

Dibentuk dan dikelolanya organisasi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam rangka penentuan juga pencapaian tujuan tersebut maka dibutuhkan informasi-informasi yang dapat memberikan gambaran kasar atau global tentang kecenderungan-kecenderungan yang mungkin terjadi, baik secara internal organisasi itu sendiri maupun pada lingkungan di mana organisasi bergerak. Informasi-informasi yang dibutuhkan tersebut secara eksternal dapat mencakup bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial budaya, serta arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara internal informasi yang diperlukan adalah tentang produk yang akan dihasilkan dikaitkan dengan kemampuan organisasi dalam penyediaan dan penguasaan berbagai sarana, prasarana, dana dan sumber daya manusia. Berdasarkan hal tersebut sistem informasi diantaranya memiliki beberapa peranan sentral di suatu perusahaan sebagai berikut:

  1. Peranan dalam mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) : Peranan sistem informasi dalam pengelolaan SDM sangat besar di suatu Perusahaan karena pengelolaan SDM merupakan fungsi yang teramat penting dalam manajemen sekaligus paling sulit. Penggerakan SDM yang tepat dan efektif memerlukan informasi yang handal. Misalnya, informasi tentang klasifikasi jabatan, informasi tentang uraian dan analisis pekerjaan,informasi tentang standar mutu yang diterapkan dalam manajemen, dan berbagai informasi lainnya yang memungkinkan satuan kerja yang mengelola SDM dalam organisasi menyelenggarakan berbagai fungsinya dengan baik.
  2. Penyelenggaraan kegiatan operasional: Penyelenggaraan kegiatan operasional merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruhan proses manajerial dan bahkan merupakan tes apakah sebuah organisasi berjalan di atas “rel” yang benar atau tidak. Hal ini dikarenakan manajemen bersifat situasional dimana penerapan prinsip-prinsip manajemen harus diterapkan secara universal dengan memperhitungkan faktor situasi, kondisi, ruang dan waktu. Manajemen juga berorientasi pada hasil optimal dari segi produk, efisiensi dan efektivitas kerja. Sehingga penyelenggaraan kegiatan operasional yang baik dan tepat hanya akan terwujud bila didukung dengan berbagai informasi yang tepat pula.

 

3.2. Keberhasilan dan Kegagalan Penerapan Sistem Informasi

3.2.1. Faktor Penunjang Keberhasilan Penerapan Sistem Informasi

Salah satu tantangan yang dihadapi sistem informasi adalah teknologi dan keadaan perusahaan yang terus mengalami perkembangan sehingga menimbulkan masalah-masalah yang lebih kompleks. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam penerapan sistem informasi, suatu organisasi memerlukan studi kelayakan sehinggga baik secara teknis, ekonomis, operasional dan organisasional penerapan sistem informasi layak secara bisnis. Akan tetapi pada umumnya keuntungan yang diakibatkan dari penerapan sistem informasi sangat sulit bahkan tidak dapat dihitung.

Ketepatan, kecepatan dan reporting interval adalah beberapa hal yang dapat menjadi perhatian berkaitan dengan biaya dan peran sistem informasi. Ketepatan yang semakin tinggi umumnya meningkatkan biaya, sehingga diperlukan pertimbangan bahwa ketepatan hanya akan dipertahankan dan ditingkatkan apabila ketepatan tersebut dapat meningkatkan nilai suatu keputusan. Semakin cepat suatu informasi diperoleh maka semakin mahal informasi tersebut. Informasi yang dapat diperoleh lebih cepat dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi lebih dini sehingga dapat dihasilkan resolusi yang lebih baik. Informasi yang semakin sering diperbaharui (reporting interval) akan menyebabkan biaya yang semakin tinggi pula. Proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi cepatnya perubahan informasi akan mempengaruhi kecepatan suatu informasi untuk dapat diperbaharui.

Oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat agar sistem informasi bisa terus diterapkan dengan sukses mengikuti perkembangan perusahaan. Fuadi (1995) menyebutkan empat langkah-langkah yang perlu diketahui perusahaan untuk penyempurnaan suatu sistem informasi.

  1. Langkah pertama adalah analisa sistem. Pada langkah ini dilakukan survei intensif atas sistem yang ada dan kebutuhan pengolahan data informasi di masa depan. Suatu analisa dilakukan atas informasi yang diperoleh dalam survei. Selanjutnya, analisa tersebut mencoba untuk mengetahui apa masalah-masalah utama yang terdapat dalam sistem yang telah ada. Selanjutnya, dilakukan sintese system, yaitu pengumpulan hasil survei dan analisa untuk merancang rekomendasi bagi revisi sistem yang telah ada atau mengembangkan suatu sistem baru. Analisa tersebut harus mencakup evaluasi mengenai kebutuhan informasi bagi para manajer dan para pemakai sistem lainnya. Dengan begitu, akan diketahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam sistem tersebut.
  2. Langkah kedua dalam penyempurnaan sistem informasi adalah desain sistem. Desain sistem merupakan proses penyiapan spesifikasi yang terperinci untuk pengembangan suatu sistem baru. Untuk itu, harus dibuat rencana pengembangan yang disiapkan pada langkah analisa sistem. Desain sistem harus dimulai dengan spesifikasi output sistem yang diperlukan yang mencakup isi, format, volume, serta frekuensi laporan dan dokumen. Selanjutnya menentukan isi dan format input sistem dan file. Setelah itu dilakukan desain mengenai langkah-langkah pengolahan, prosedur-prosedur, dan pengendalian. Serta kegiatan untuk menyiapkan suatu sistem implementasi sistem yang baru.
  1. Langkah ketiga dalam penyempurnaan sistem informasi adalah implementasi sistem. Pertama-tama dilakukan perencanaan dan penjadwalan aktivitas implementasi agar dapat dikordinasi dengan baik. Selain itu bila perlu, dilakukan penerimaan pegawai baru dan pelatihan kepada pegawai baru baru serta realokasi pegawai-pegawai yang ada. Setelah itu dilakukan pengujian terhadap prosedur baru dan bila perlu dilakukan modifikasi. Standar dan pengendalian atas sistem yang baru harus diciptakan. Dokumentasi sistem yang lengkap perlu dibuat. Penggunaan sistem baru dan sistem lama dapat dilakukan secara simultan untuk periode yang singkat dan hasilnya kemudian dibandingkan untuk meyakinkan bahwa sistem baru tidak mempunayi kelemahan seperti sistem lama. Tahap akhir dari implementasi adalah mengganti sistem lama dengan sistem baru.
  2. Langkah keempat dalam penyempurnaan sistem informasi adalah review system. Review tersebut dilakukan tidak lama setelah sistem baru dioperasikan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dan mengoreksinya. Hal ini dilakukan supaya hal-hal kecil yang mungkin tidak tampak atau tidak jelas saat penggantian sistem dapat diketahui. Review tersebut harus dilakukan secara periodik. Terkadang review akan menunjukkan modifikasi besar atau penggantian yang perlu dilakukan dan prosesnya akan dimulai lagi seperti pada langkah.

O’Brien  dan Marakas (2009) menyatakan terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor tersebut ialah: yang menyebabkan suatu orgnisasi sukses dalam menerapkan sistem informasi  ialah:

  1. Adanya dukungan dari manajemen eksekutif
  2. Keterlibatan end user
  3. Penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas
  4. Perencanaan yang matang
  5. Harapan perusahaan yang nyata

3.2.2. Faktor Kegagalan Penerapan Sistem Informasi

Tidak semua SI dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Pada pelaksanaannya  sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan banyak perusahan mengeluarkan dana yang sangat besar untuk investasi dalam pengembangan dan penerapan sistem informasi. Berikut kegagalan penerapan sistem informasi menurut Rosemary Cassafo dalam O’Brien (1999):

  1. Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen: Pihak eksekutif perusahaan menyerahkan seluruh penerapan sistem informasi pada bagian TI, dan enggan untuk mempelajari sistem informasi yang baru atau mereka tidak mengerti sama sekali. Hal ini dapat menjadi faktor penghambat atau kegagalan dalam penerapan SI dalam suatu perusahaan yang besar. Hal ini diakibatkan karena rasa kurang memilki terhadap sistem informasi yang diterapkan oleh perusahaan. Hal ini akan menyebabkan banyak satuan kerja dalam perusahaan belum dapat mengoptimalkan fungsi dan potensi SI untuk mempermudah komunikasi antar satuan kerja, transfer informasi, dan data perusahaan, serta sharing pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk memajukan perusahaan.
  1. Tidak memiliki perencanaan memadai mengenai tahapan dan arahan yang harus dilakukan: Dalam hal ini penerapan sistem informasi dalam perusahan tidak didukung dengan perencanaan yang matang dan tidak dapat menjembatani keinginan dan kepentingan orang-orang dalam perusahaan dengan pihak yang mengerti dan membuat sistem informasi tersebut. Hal ini menyebabkan sistem yang akan dijalankan menjadi tidak terarah sesuai dengan tujuan perusahaan.
  1. Inkompetensi secara teknologi: Kurangnya keterampilan dari tenaga-tenaga yang digunakan oleh perusahaan untuk menjalankan TI dan kurangnya inisiatif dan keaktifan SDM dalam mensosialisasikan keuntungan dan kemudahan dari sistem informasi yang ada akan menyebabkan sistem yang diterapkan tidak akan berjalan seperti yang diinginkan. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan di bidang TI nya rendah. Kesalahannya adalah perusahaan sering memaksakan SDM yang ada untuk menjalankan investasi TI, padahal SDM tersebut belum mampu.
  1. Strategi dan tujuan tidak jelas ketika akan menerapkan sistem informasi: Kebanyakan pimpinan perusahaan tidak mengetahui apa visi, misi, strategi ataupun rencana bisnis yang berkenaan dengan implementasi sistem informasi pada perusahaannya. Strategi dan tujuan merupakan faktor penting yang menjadi penentu seberapa besar pencapaian yang diinginkan ketika perusahaan akan melakukan sesuatu. Tanpa strategi dan tujuan yang jelas maka apapun yang dilakukan menjadi tidak terarah karena tidak ada batasan dimana sistem yang digunakan dapat dianggap berhasil ataupun tidak.
  1. Tidak jelasnya kebutuhan terhadap sistem:Mengidentifikasi kebutuhan terhadap sistem dalam suatu perusahaan merupakan bagian dari perencanaan sistem informasi yang merupakan komponen penting dalam perencanaan perusahaan. Implementasi sistem tertentu harus dapat membantu perusahaan mencapai tujuannya yaitu memperkuat bisnis, memberikan keunggulan kompetitif, mempermudah pengelolaan sumber daya perusahaan dan penerapan teknologi dalam perusahaan.

BAB IV

PENUTUP

 4.1.   Kesimpulan

Sistem informasi sangat penting bagi keberlangsungan hidup sebuah perusahaan saat ini. Penerapan sistem informasi merupakan tugas yang kompleks bagi perusahaan, oleh karena diperlukan perencanaan yang matang disertai dengan analisa dan perhitungan yang matang dalam menerapkan sebuah sistem informasi di suatu perusahaan.  Agar berhasil dengan baik maka perusahaan harus melakukan langkah-langkah yang tepat ketika akan mengimplementasikan sistem informasi. Langkah-langkah ini harus dilakukan dalam sebuah cara yang sistematis dan mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Walaupun hal ini tidak menjamin kesuksesan pengimplementasian sebuah sistem informasi ke dalam perusahaan, namun pengerjaan yang telah mengikuti kaidah akan mendekatkan kepada hasil yang lebih baik.

Selain kesuksesan, dalam penerapan sistem informasi juga terdapat kegagalan. Kegagalan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang penting adalah kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen,  tidak memiliki perencanaan memadai, inkompetensi secara teknologi, strategi dan tujuan tidak jelas ketika akan menerapkan sistem informasi, tidak jelasnya kebutuhan terhadap sistem.

4.2.    Saran

Sistem informasi yang dikembangkan dan diterapkan pada suatu perusahaan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini dikarenakan, apabila tidak sesuai dengan kebutuhan perusahan akan terjadi ketidakefesienan dan ketidakefektifan informasi, yang akan menyababkan kerugian perusahaan. Agar hal seperti itu terhindar, perusahaan melakukan perencanaan sebaik-baiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Fuadi, A. 1995. Langkah-Langkah Menuju Penyempurnaan Sistem Informasi. Majalah Manajemen. Edisi September-Oktober.

McLeod. R. 1996. Sistem Informasi Manajemen; Studi Informasi Berbasis Komputer. Terjemahan. PT. Prenhalindo.

O’Brien, James A. 1999. Management Information Systems: Managing Information Tecnology in The Networked Enterprice, forth Edition, IRWIN, USA.

O’Brien, James. 2000 Management Information System:Managing Information Technology in the Internetworked Enterprise, Fourth Edition. McGraw-Hill.

O’Brien, JS, Management Information System: Managing Information Technology in E-Business Enterprise, 5th. Ed. Irwin Inc, Boston, 2002.

O’Brien, James. A. (2005). Pengantar Sistem Informasi Perseptif Bisnis dan in Manajerial. Salemba.

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

Robert G. Murdick.1993. Sistem Informasi Untuk Manajemen Modern Edisi 3. Erlangga. Jakarta


Hello world!

Welcome to Blog Mahasiswa. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa




Skip to toolbar